Tag


Oleh : Hasmaruddin Lubis, S.Pd.I

Dikisahkan bahwa Isam bin Yusuf adalah seorang ahli ibadah yang sangat wara’ dan terkenal dengan kekhusyu’annya dalam ibadah terlebih sholat. Tetapi kekhawatiran dan was-was selalu menghinggapinya kalau-kalau ibadahnya kurang khusyu’ dan dia sangat takut ibadah yang dikerjakannya tidak diterima di sisi Allah SWT., karenanya dia selalu bertanya kepada ‘alim yang dianggapnya lebih baik ibadahnya dari dirinya, demi untuk memperbaiki kekhusyu’annya.
Suatu hari Isam menghadiri majelis seorang ‘abid bernama Hatim Al-Asam dan bertanya : “Wahai Aba Abdurrahman (panggilan Hatim), bagaimanakah caranya tuan sholat ?”. Hatim : “Apabila masuk waktu sholat, lantas aku berwudhu’ baik zhahir maupun bathin.” Rasanya kalau whudu’ zhahir sudang sering dikerjakannya, tetapi whudu’ bathin dia baru pertama kali mendengar. Penasaran dengan jawaban tersebut Isam lanjut bertanya lagi : “Bagaimana wudhu’ bathin itu wahai Aba Abdurrahman ?”, Hatim menjawab : “Wudhu’ zhahir itu sebagaimana biasa yang kamu kerjakan, yaitu mengalirkan air dan membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. sedangkan wudhu’ bathin adalah membasuh anggota dengan tujuh perkara, yaitu : Bertaubat, menyesali akan dosa yang telah dilakukan, tidak tergila-gila dengan dunia, tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia, meninggalkan bermegah-megah, meninggalkan sifat khianat dan menipu, serta meninggalkan sifat dengki”, lanjut Hatim lagi : “lantas aku pergi ke Masjid, kuhadapkan semua anggotaku ke arah kiblat, lalu aku berdiri serasa aku berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim dan aku menganggap bahwa sholatku kali ini adalah sholat terakhir bagiku, karena selepas sholat itu aku akan mati. Aku satukan hatiku seolah-olah Allah SWT. ada di hadapanku, syurga ada di sebelah kananku dan neraka ada di sebelah kiriku, serta malaikat maut berada di belakangku. Kemudian aku berniat dan bertakbir, setiap bacaan aku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhu’, merasa rendah dan hina, karena tidak ada dayaku dihadapan Rabbku, selanjutnya aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh harap dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku sholat selama 30 tahun.
Mendengar jawaban Hatim tersebut, Isam tidak sanggup lagi menahan dirinya, dia menangis sekuat-kuatnya kerana membandingkan dan membayangkan sholat dan ibadah yang dikerjakan Hatim lebih baik dari dirinya.

Bagaimana dengan kita….???
بارك الله لى ولكم ونفعنى وإياكم